AKARBERITA.COM, Parepare— Rangkaian kegiatan Pekan Literasi Ibu dan Anak berlanjut dengan digelarnya Kelas Menulis Puisi di AW Factory, Minggu, 5 Oktober 2025. Kegiatan ini menghadirkan Dirja Wiharja, seorang penulis dan tutor asal Parepare, sebagai narasumber utama.
Dalam sesi tersebut, para peserta diajak memahami esensi puisi secara mendalam, mulai dari mengenal apa itu puisi, menemukan ide, membuat metafora, hingga menyusun struktur dan irama puisi.
Melalui diskusi interaktif dan latihan menulis, peserta belajar mengekspresikan pengalaman dan perasaan pribadi menjadi karya yang puitis dan bermakna.
Menurut Dirja, menulis puisi bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga proses mendengar suara hati dan menyampaikan makna dengan kejujuran serta keindahan bahasa.
“Menulis adalah cara untuk berdialog dengan diri sendiri. Puisi lahir ketika kita berani menyelami perasaan terdalam dan menuturkannya dengan jujur,” ungkap Dirja di sela kegiatan.
Founder sekaligus Ketua Teras Baca Lompoe, Fadjriani, yang juga penggagas Pekan Literasi Ibu dan Anak, menuturkan bahwa kelas ini dirancang untuk menghadirkan ruang ekspresi yang ramah, reflektif, dan menyenangkan.
“Puisi memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menuturkan rasa. Dalam kegiatan ini, kami ingin peserta, baik ibu, remaja, maupun anak muda belajar mengungkapkan pengalaman hidupnya dengan bahasa yang indah dan bermakna,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini menjadi bagian dari gerakan literasi yang tumbuh dari masyarakat.
“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis teks, tetapi juga tentang membaca diri, lingkungan, dan perasaan. Dari sanalah kepekaan dan empati bertumbuh,” tambahnya.
Kelas ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga pegiat literasi. Suasana kelas berlangsung hangat dan penuh inspirasi, dengan peserta saling berbagi karya serta mendapatkan umpan balik langsung dari narasumber.
Pekan Literasi Ibu dan Anak terus berkomitmen menghadirkan ruang kolaboratif bagi masyarakat Parepare untuk menumbuhkan budaya literasi, mengasah sensitivitas, serta menumbuhkan keberanian berekspresi melalui tulisan. (*)











