AKARBERITA.COM, Parepare – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan (BBP Sulsel) mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Parepare dalam upaya melestarikan bahasa daerah melalui program revitalisasi, meski berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Hal itu ditegaskan Ketua Tim Kerja Pengembangan Bahasa dan Sastra BBP Sulsel, Dr. Sandra Safitri Hanan, M.A., saat menghadiri kegiatan Pelatihan dan Diseminasi Pemodelan Revitalisasi Bahasa Daerah untuk Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025 yang digelar oleh Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare, 30 September. Kegiatan ini akan berakhir pada 1 Oktober 2025.
“Saya sangat mengapresiasi komitmen dan kepedulian Pemerintah Kota Parepare. Kegiatan ini adalah bukti nyata bahwa di tengah efisiensi anggaran, Parepare tetap konsisten menjaga bahasa daerah. Terima kasih atas penyelenggaraan kegiatan ini sebagai kelanjutan program Balai Bahasa Sulsel,” ujar Sandra.
Sandra menambahkan, Parepare termasuk kota yang dinilai berhasil dalam program revitalisasi bahasa daerah. Bahkan, menurutnya, Balai Bahasa Sulsel tidak lagi melakukan pemantauan khusus di Parepare karena konsistensinya sudah terbukti melalui prestasi di ajang FTBI tingkat provinsi hingga nasional.
“Setiap tahun Parepare menunjukkan capaian yang membanggakan. Masih ada kabupaten yang tidak melakukan pengimbasan padahal sebelumnya sudah ada bimtek. Sementara di Parepare, pengimbasan dan pendampingan berjalan sangat baik,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Parepare, H. Makmur, yang membuka kegiatan itu, mengingatkan peserta agar serius mengikuti pelatihan. Menurutnya, guru memiliki peran penting sebagai perpanjangan tangan dalam menumbuhkan kecintaan anak didik terhadap bahasa daerah.
“Semangatki ikuti kegiatan ini, karena bapak ibu menjadi perpanjangan tangan untuk anak-anak kita. Jangan sampai berhenti hanya pada lomba, tapi menjadi gerakan bersama agar anak-anak makin mencintai bahasa ibunya,” pesan Makmur.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parepare, Niniek Harisyani, menyebutkan sebanyak 108 peserta hadir dalam kegiatan ini. Mereka merupakan perwakilan dari sekolah SD dan SMP. Para narasumber berasal dari guru master atau guru utama yang sebelumnya telah mengikuti Training of Trainers (ToT) Bimbingan Teknis Revitalisasi Bahasa Daerah oleh Balai Bahasa Sulsel sejak 2021 hingga 2025.
“Semua guru master atau guru utama kita berdayakan untuk saling berbagi dan menginspirasi. Mereka menjadi ujung tombak dalam mengimbaskan materi ke sekolah-sekolah,” jelas Niniek.
Hadir pula Ketua Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia (PPBDI) Provinsi Sulsel, Rahmaniar, yang juga merupakan guru master Revitalisasi Bahasa Daerah tahun 2021 dan 2022. (*)












