Headline

Kamis, 22 Januari 2026
Opini

Potret Ekonomi Masyarakat yang Jujur dan Nyata

oleh : Desi Ariyanti
Pemerhati Ekonomi Masyarakat

AKARBERITA.COM, Parepare – Hari ini, entah mengapa saya teringat akan sebuah peristiwa yang masih membekas di hati. Sekitar satu bulan yang lalu, pada sebuah siang yang biasa saja, saya sedang menikmati makan siang di rumah. Pintu rumah terbuka lebar, seperti kebiasaan saya sehari-hari. Bagi saya, pintu yang terbuka adalah isyarat keterbukaan—agar siapa pun yang datang tidak merasa sungkan.

Di tengah suasana itu, datanglah seorang ibu yang usianya saya perkirakan sekitar 40 tahun. Ia mengetuk pintu yang sebenarnya sudah terbuka, lalu mengucapkan salam dengan suara pelan namun sopan. Saya persilakan ia masuk. Dengan raut wajah yang sendu, ibu tersebut kemudian menyampaikan maksud kedatangannya: ia ingin menawarkan diri untuk bekerja sebagai tukang cuci di rumah saya.

Saya tidak serta-merta menjawab iya atau tidak. Sebaliknya, saya mengajaknya duduk dan berbincang sejenak. Saya mulai bertanya hal-hal sederhana—di mana ia tinggal, berapa jumlah anaknya, sudah berapa lama ia bekerja sebagai tukang cuci rumahan, serta bagaimana ia bisa sampai ke lingkungan tempat tinggal saya. Dari percakapan itu, saya mengetahui bahwa hari itu merupakan kali pertama ia datang ke kompleks ini. Bahkan, bisa dikatakan, hari itu adalah “debut” pertama nya mengetuk pintu demi pintu untuk mencari penghasilan.

Dengan suara yang lirih, ia berkata, “Saya janda dengan tiga orang anak. Daripada saya hanya diam di rumah tanpa melakukan apa-apa, saya bingung harus mencari uang dari mana untuk memenuhi kebutuhan makan anak-anak saya.” Kalimat itu belum selesai sepenuhnya, ketika air matanya tiba-tiba tumpah. Tangisnya pecah, seakan beban hidup yang selama ini dipendam tak lagi sanggup ia tahan.

Sejujurnya, saya sempat merasa tidak enak hati. Saya tidak bermaksud menyentuh ranah pribadinya. Namun cerita itu mengalir begitu saja—panjang, jujur, dan penuh kesedihan. Setiap kata yang ia ucapkan terasa mengaduk nurani saya. Dalam hati saya berkata, siapa pun yang berada di posisi saya, rasanya mustahil untuk tidak merasa iba dan terenyuh.

Setelah suasana sedikit lebih tenang, saya menanyakan di mana sebenarnya ia tinggal. Jawabannya membuat saya terkejut. Ternyata rumahnya berada sangat dekat dengan SPPG yang saya bangun bersama partner. Mendengar itu, spontan saya bertanya mengapa ia tidak mencoba melamar pekerjaan di SPPG. Bukankah SPPG merupakan program pemerintah yang memang dirancang untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar?

Dengan wajah ragu dan suara lirih, ibu itu menjelaskan bahwa sebenarnya ia sempat berniat mendaftar. Namun niat tersebut urung setelah mendengar berbagai cerita dari tetangga-tetangganya. Ia mendapat informasi bahwa dirinya dianggap tidak memenuhi syarat karena faktor usia. Selain itu, ia juga mendengar bahwa jam kerja di SPPG berlangsung siang hingga malam, sehingga ia khawatir anak-anaknya tidak akan terurus dengan baik.

Mendengar penjelasan itu, saya merasa perlu meluruskan informasi. Saya pun menyampaikan secara perlahan dan sederhana bahwa SPPG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi merupakan program pemerintah pusat yang memiliki tujuan luas. Program ini tidak hanya menyediakan manfaat gizi bagi anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal dan pembuka lapangan kerja bagi warga sekitar, khususnya mereka yang tinggal dalam radius kurang lebih 500 meter dari lokasi.

Saya jelaskan pula bahwa jika rumah sang ibu hanya berjarak beberapa meter dari lokasi SPPG, maka justru ia termasuk warga yang diprioritaskan untuk mendaftar. Sistem kerja di SPPG diatur berdasarkan shift, sehingga waktu kerja dapat disesuaikan dan tidak harus mengorbankan peran seorang ibu dalam mengurus anak-anaknya.
Lebih lanjut, saya ceritakan bahwa SPPG penyelenggara Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan banyak tenaga. Dalam satu unit SPPG saja, terdapat sekitar 50 orang pekerja yang terdiri dari Kepala SPPG, akuntan, ahli gizi, asisten lapangan, hingga para relawan. Proses rekrutmen pun dirancang inklusif, dengan rentang usia yang cukup luas, mulai dari 18 hingga 50 tahun. Rentang usia ini membuka peluang sebesar-besarnya bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi.

Alih-alih mereda, tangis sang ibu justru semakin kencang setelah mendengar penjelasan tersebut. Namun kali ini, air mata yang mengalir bukan semata air mata kesedihan, melainkan juga campuran rasa haru dan harapan. Ia berulang kali mengucapkan terima kasih, seraya bersyukur kepada Sang Pencipta karena masih diberi jalan dan peluang untuk berjuang demi keluarganya.
Dengan wajah yang tampak lebih lega dan hati yang mungkin sedikit lebih ringan, ia pun berpamitan. Sebelum melangkah keluar, ia berjanji akan segera menyiapkan dan membawa surat lamaran kerja yang ditujukan kepada yayasan pengelola SPPG, mitra Badan Gizi Nasional di Kota Parepare.

Saya memandang kepergiannya dengan perasaan campur aduk : haru, syukur, dan keyakinan bahwa informasi yang benar, bila disampaikan dengan empati, mampu mengubah putus asa menjadi harapan. Terimakasih kepada pemerintah, atas program yang menyentuh sendi terdalam masyarakat Indonesia. Kisah ibu ini, merupakan satu dari sekian banyak kisah-kisah menyentuh lainnya sebagai cermin ekonomi rakyat yang paling jujur dan nyata. (*)

BAGIKAN:

Berita Terkait

1 dari 7

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *