AKARBERITA.COM, Maros –Meski cuaca buruk, proses evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 yang ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung masih terus berlangsung.
Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muh Arif menjelaskan, evakuasi melalui udara akan dilakukan apabila cuaca memungkinkan.
Namun, jika kondisi tidak mendukung, jenazah terpaksa dievakuasi melalui jalur darat menuju pos terdekat di wilayah Kabupaten Pangkep atau kawasan Balocci.
“Karena jenazah ditemukan di kedalaman 200 meter, maka petuga Tim SAR harus diangkat dulu ke puncak. Setelah itu kami lihat situasi cuaca. Kalau cuaca bagus, helikopter akan diterbangkan untuk penjemputan. Kalau tidak memungkinkan, evakuasi dilakukan lewat darat,” katanya.
Dia menegaskan, perbedaan waktu antara evakuasi udara dan darat sangat signifikan. Jika menggunakan helikopter, waktu tempuh dari basecamp Lanud Sultan Hasanuddin menuju lokasi hanya memakam waktu enam menit.
“Sementara jika melalui jalur darat, proses evakuasi bisa memakan waktu hingga lima jam karena jenazah harus dipikul dari medan terjal ke bawah,” ujarnya.
Saat ini kata dia, kondisi cuaca di lokasi masih hujan dan berkabut, sehingga evakuasi menggunakan helikopter belum dapat dilakukan.
Selain cuaca, medan juga menjadi tantangan berat bagi tim di lapangan karena posisi jenazah berada di kedalaman sekitar 200 meter.
“Ini bukan pekerjaan mudah. Medannya berat dan berisiko. Tim di lapangan masih bekerja keras mengangkat jenazah ke atas,” katanya.
Apabila jenazah berhasil dievakuasi hingga ke puncak hari ini, pihak SAR berharap dapat segera membawanya ke rumah sakit rujukan tanpa menunggu lama.
Rumah sakit yang disiapkan antara lain Rumah Sakit TNI AU atau RS Bhayangkara untuk menjalani pemeriksaan antemortem. (najmi s limonu)









