Politik & Parlemen

Warga Dusun Batu Bolong Tak Pernah Gunakan Hak Pilih

warga dusun Batu Bolong tidak gunakan hak pilih karena tidak miliki ktp.-Ist/AkarBerita-

AKARBERITA.com, Sidrap – Warga Dusun Batu Bolong, Desa Compong, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidrap, selama ini mereka belum sekalipun menggunakan hak pilih mereka sebagai warga negara dalam perhelatan politik, baik Pilkada maupun Pemilu. Mereka tidak ikut memberikan hak pilih karena warga setempat tidak terdaftar sebagai daftar pemilih.

Salah satu warga Adın mengatakan, Sebagian warga di Dusun ini yang belum memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebenarnya sangat mengidamkan memiliki KTP. Hanya saja mereka tidak tau cara pengurusannya.

“Kita tidak punya KTP, makanya tidak pernah ikut nyoblos, Pernah kita lapor ke pemerintah setempat, Saya disarankan ke Wajo untuk urus surat pindah domisili, karena sebelum menetap disini saya sebelumnya memang tinggal di wilayah perbatasan Sidrap dan Wajo yakni di Belawae,” ungkap Adın.

Menurutnya, Saran inilah yang membuat keinginannya untuk mendapatkan KTP pupus. Pasalnya dia tidak memiliki nyali untuk pergi ke Kota Sengkang seorang diri.

“Saya tidak malu akui, saya tidak tau sama sekali jalan ke Kantor Capil Sengkang. Bahkan kesana saja takut kesasar. Makanya kami hanya Bisa pasrah saja,” pungkasnya.

Sementara Sekretaris Kecamatan Pitu Riase Jemmy Harun membeberkan, dari informasi warga setempat, bukan cuma di Dusun Batu Bolong itu saja ada warga yang belum ber KTP di Dusun lainnya di wilayah Desa Compong juga masih banyak yang belum memiliki KTP. Bahkan ada satu keluarga yang tidak memiliki akta pencatatan Sipil, mulai akta kelahiran sampai KTP.

Selain itu, lanjut Jemmy, aparat desa setempat pun tidak mampu berbuat banyak sebab saat di konsultasikan ke Disdukcapil, kadang banyak persyaratan yang tidak sulit mereka penuhi.

Alasannya sebagian dari mereka ada yang sebelumnya bermukim di luar Desa Compong bahkan ada yang pernah bermukim di pedalaman yang berbatasan dengan tetangga.

“Saya sudah gali masalahnya. Ada warga yang awalnya tumpang tindih domisilinya karena bermukim di wilayah perbatasan. Tapi kan sekarang sudah berbasis Online jadi saya pikir tidak terlalu susah. Cuma memang perlu di fasilitasi oleh aparat desa setempat. Dan Insya allah kita di kecamatan siap membantu sesuai kewenangan kita, “pungkas Jemmy.

(Dwi)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
error: Content is protected !!