Regional

Coretan Syahrul Fahmi, Eks Jurnalis Fajar Yang Berhasil Selamat Dari Bencana Palu

Fahmi Syahrul
Fahmi bersama istri dan anak, tahun 2016 silam. -dokpribadiFahmi/AkarBerita-

AKARBERITA.com, Makassar – Syahrul Fahmi, mantan jurnalis Harian Fajar yang sempat bertugas di Kota Parepare, menjadi salah satu korban selamat dalam peristiwa bencana gempa bumi yang disusul Tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Sempat terjebak dua hari pasca musibah yang telah menelan korban hingga ratusan tersebut, Fahmi akhirnya berhasil meninggalkan Palu bersama ibu, anak dan istrinya yang tengah hamil tua.

Berikut catatan pengalaman yang dibagi Fahmi melalui akun Facebooknya bernama Fahmi Syahrul, Senin (1/10).

Coretan Kecil Mengingat Peristiwa Gempa Palu

Laa ilaaha illallah, astagafirullahulazim, menjadi kalimat tauhid yang tak pernah putus saya ucapkan sejak hari Jumat, 28 Agustus. Padahal kalimat itu sangat jarang saya ucapkan.

Ini mungkin menjadi titik balik buat saya dalam mengingat sang pencipta. Sebab, saya yang selama ini masih terbuai oleh dunia dikagetkan dengan bencana yang hampir merenggut nyawa saya beserta anak istri dan mama.

Bagaimana tidak, pasca kejadian bencana alam Gempa Bumi dengan kekuatan mencapai 7,7 SR sehingga menghasilkan tsunami di Kota Palu menjadi kisah paling menakutkan dan mencekam dalam hidupku. Mungkin Rasa itu tidak bisa saya buang jauh. Masih teringat jelas peristiwa yang telah merenggut nyawa Ribuan orang tersebut.

Kejadiannya pun tepat suara Adzan tengah berkumandang di Masjid-majid. Saat kejadian saya pun, tengah melakukan aktifitas membakar ikan untuk menjamu pelanggan saya. Sebab saya baru merintis usaha kuliner di kota palu. Istri yang tengah hamil tua, anak, dan mama pun saat itu masih di kamar. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari bawah tanah.

Ratusan pengendara motor yang lalu lalang di jalan raya tiba-tiba ambruk sendiri dan listrik langsung padam. Seketika itu pun tanah bergetar. Yang pertama terasa pijakan kakiku seperti turun kemudian tanah naik dan disusul goyangan yang durasinya pun sangat panjang, lebih dari lima menit.

Seketika itu saya teringat keluarga saya yang ada di kamar. Mungkin istilah penerbangan selamatkan diri sendiri lebih utama baru selamatkan nyawa orang lain tak berlaku lagi buat saya. Sebab dalam fikiranku, lebih baik saya mati bersama keluargaku daripada meninggalkan mereka dalam ruko yang masih bergetar akibat guncangan kuat tersebut.

Teriakan orang yang melarang saya untuk tidak masuk dalam rumah. “Pak jangan masuk, bahaya pak. Oi pak di luar saja.” itu teriakab orang kepaku yang saya sendiri tidak tahu darimana asalnya.

Sesampai depan pintu kamar, saya berusaha meraih mama, anak dan istriku. Saya tak ingat bagaimana saya bisa meraih mereka dan mengefakuasi mereka keluar rumah. Mungkin fikiran jernih sudah tak ada dalam kepalaku, yang hanya ada dalam fikiranku untuk menolong mereka semua.

Dengan sekuat tenaga, saya menuntun mereka keluar dari rumah. Kami berjalan perlahan dari kamar yang jaraknya 20 meter menuju pintu masuk, meski badan tidak bisa mengimbangi kuatnya getaran tanah. Sesekali kami terpental ke tembok. Tapi kami terus berusaha untuk keluar rumah.

Alhamdulillah mereka semua selamat hingga keluar rumah. Di pinggir jalan kami menyaksikan sendiri bangunan-bangunan bergerak kenarah tidak jelas, kiri kanan ke depan dan belakang. Orang-orang tergeletak di jalanan dengan teriakan histeris.

Ada yang sudah mengingat keluargannya di rumah, dan banyak pula orang yang tiba-tiba terpisah oleh sanak keluarganya. Padahal saat itu mereka masih bersama di atas kendaraan masing-masing.

Mamaku dan istriku pun tidak ada habisnya menangis. Anakku yang masih berumur 2 tahun terus kudekap. Kutuntun mereka agar mencari tempat yang terbuka agar tak ada reruntuhan yang menimpa kami.

Kerabat yang telah lama menetap di kota palu, yang kebetulan tinggal dua rumah dari saya pun memanggil kami agar berkumpul. Kami semua saling merangkul. Kalimat istgfar tidak ada habis kami ucapkan.

Hampir dua jam gempa tak berkesudahan terjadi. Dengan kekuatan yang perlahan menurun. Setalah itu kembali disusul gempa-gempa kecil, kalau dihitung mungkin mencapai ratusan kali hingg pagi hari.

Parahnya lagi, akses komunikasi dari empat provider di Palu putus sama sekali. Listrik padam pun tak tahu sampai kapan. Hal ini membuaat kami semakn terisolasi.

Sekira jam 7 malam, ribuan orang berbondong-bondong mencari tempat aman. Ada yang berjalan kaki hingga puluhan kilometer. Ada pula yang naik mobil dan motor. Saat saya menanyai mereka hendak kemana, jawabannya sama, “ikut saja orang. Mungkin ke gunung untuk cari tempat lebih tinggi.”

Saya dan kelaurga pun sempat terfikir untuk ikut. Namun melihat istriku yang tengah hamil tua (sebab perkiran dokter HPL-nya 28 Sepetember) saya urungkan niatan itu. Ancaman tsunami yang menjadi momok bagia warga coba kusembunyikan kepada sanak keluargaku.

Saya pun mencoba berfikir positif. Letak geografis rumah saya berada di tempat tinggi. Jadi ancaman tsunami sangat kecil. Apalagi kota palu merupakan daerah perairannya penuh teluk. Jadi kemungkinan tsunami tidak akan separah di Aceh.

Syahrul Fahmi bersama istri. -dokpribadifahmi/AkarBerita-

Selain tawakkal kepada Allah SWT, Hal ini menjadi acuanku untuk memilih menetap di depan rumah. Alhamdullah keputusan yang saya ambil itu tepat. Allah masih menyayang kami. Kami semuaa selamat, meski trauma mendalam masih kami rasakan.

Pasca gempa yang terjadi sekira 2 jam lebih tanpa henti itu, kami pun kembali dibuat panik, sebab gempa susulan hingga pagi masih terus terjadi. Sesekali orang kembali berbondong-bondong untuk mengungsi.

Ketakutan sanak keluarga pun menjadi. Tapi saya berusaha menenangkan mereka. Akupun melihat anakku yang sangat takut. Dia tak henti kudekap Menenangkannya. Hingga tengah malam tak terhitung jumlah gempa yang terjadi.

Saya pun mengambil tikar dan membentangnya ke bahu jalan. Istriku dan mamaku beristirahat di sana. Anakku yang kugendong mulai tertidur. Dia pun kuletakkan di tikar. Hal ini pun menjadi pengalaman pertamanya tidur di luar kamar.

Hingga pagi hari gempa tak berhenti. Tapi kekuatannya mulai berkurang. Saya pun memiliki niatan untuk meninggalkan kota palu secepatnya. Saya mencari koneksi ke semua jaringan.

Carteran mobil tak ada, sebab semua jalanan untuk keluar masuk kota palu tidak ada. Longsor di mana-mana.
Belum lagi penerbangan umum yang tidak ada karena falitas bandara rusak parah.

Di sepanjang perjalanan mencari akses keluar palu, saya dikagetkan melihat ratusan mayat yang tergelatak di sejumlah titik. Jalanan yang terbelah, bangunan yang rata dengan tanah.

Bahkan Mall Tatura (Ramayana) yang letaknya hanya 50 meter dari rumahku rusak parah. Rarusan mayat jelas terlihat di sana. Bahkan ada beberapa mayat yang bergelantungan di beberapa sudut mall yang masih berdiri miring.

Hal ini semuanya kusembunyikan dari istri mamaku. Saya tak ingin membuat trauna mereka menjadi parah. Sebab getaran kecil saja membuat mereka ketakutan.

Hingga malam hari, kami pun belum bisa meninggalkan Palu. Kami pun masih tinggal di depan jalan. Tak ada satu pun orang yang berani masuk ke dalam rumah.

Parahnya lagi, saat kami beristirahat di tenagh malam, hujan malah turun. Kami tak memiliki tenda. Langit yang menjadi atap kami selama dua malam malah membasahi kami.

Parahnya lagi, selama tiga jam sekira pukul 02.00 Wita gempa berkekuatan sedang kembali terjadi selama empat kali. Disusul gempa ukuran kecil yang tak ada putusnya.

Saya pun khwatir dengan anak istriku, saya mencoba melihat-lihat rumah sakit. Sebab saya khawatir istriku bisa saja melahirkan kapan saja. Alangkah terkejutnya saya saat melihat ribuan pasien yang tergeletak di halaman RS. Bahkan kuburan Cina yang ada dideketnya pun penuh.

Saya kian cemas. Istriku yang bisa melahirkan kapan saja pasti tak akan mendapatkan pelayanan yang maksimal. Bahkan kemungkinan terburuk dirawat di rumah kuburan seperti pasien lainnya bisa terjadi.

Keesokan paginya (pada hari kedua pascagempa) saya kembali berusah mencari koneksi. Mencari kabar, apakah akses keluar kota palu sudah bisa digunakan atau belum. Ternyata longsor masih terjadi di mana.

Saya mencoba peruntungan ke bandara Sis Al Jufri. Di sana saya melihat ada proses evakuasi terjadi dengan Pesawat Heecules milik TNI AU. Cukup sedikit informasi yang saya dapatkan dan kuputuskan untuk menjemput anak, istri dan mama saya.

Mereka saya ajak ke bandara dan mengambil pakaian seadanya dalam rumah. Mereka saya bawa ke bandara. Perjuangan untuk masuk ke area bandara pun sangat sulit. Desak-desakan warga terus terjadi.

Saya berusaha melindungi istriku. Setiap ada orang yang mendorong saya maki. Bahkan ada beberapa orang yang saya pukul, saking cemasnya apabila perut istriku terdorong.

Allah maha kuasa. Berkat perlindungannya, kami bisa melalaui gerbang dengan keadaan sudah sangat lemas. Petugas penjaga dari satuan TNI pun tampak kewalahan menjaga dorongan warga.

Kondisinya yang hamil tua pun membuatnya mendapatkan prioritas untuk proses evakuasi. Tapi tidak bagi saya yang merupakan suaminya. Sesuai SOP laki-laki sehat tidak diijikam berangkat. Prioritas utama adalah kaum hawa, anak-anak, lansia dan orang sakit.

Hal ini pun membuatku sempat pasrah. Saya mengikhlaskan anak, istri, dan mama saya berangkat terlebih dahulu menuju Kota Makaassar. Rasa putus asa membuatku berserah kepada Allah.

Bukti kecintaan allah kepada kami kembali terlihat. Seorang dokter dari TNI yang mengevakuasi istri saya menghampiri dan membisikkan ke saya untuk menyelundup masuk ke dalam pesawat hercules.

Saya diperintahkannya untuk lari ke sana melewati penjagaan kemudian masuk ke dalam pesawat. “Bang, saya pernah merasakan istri melahirkan tanpa kehadiran suami. Saya mengajari abang untuk melanggar SOP yang saya pegang. Abang lari ke pesawat dan kalau ditahan bilang saja istriku tak ada yang dampingi. Tapi kalau tak diizinkan itu perjuangan terakhir kita agar bisa sama-sama istri. Cepat lari sana,” katanya sambil menepuk pundakku.

Saya pun yang tak sempat melihat papan namanya dan mengucapkan terimakasih kepadanny, langung mengikuti intruksinya. Allah memperlihatkan kuasayan. Disaat puluhan orang dihentikan petugas, saya malah leluasa lari sekira 500 meter jauhhnya hingga tiba di pantat pesawat hingga naik dan menemukan isteriku.

Tak lama kemudian pintu pesawat tertutup dan lepas landas. Di kaca pesawat hercules saya meilhat ke bawah dan mengucapkan salam perpisahan kepada petugas yang membantuku.

Disitu pula saya baru melihat dengan jelas betapa parahnya kota palu yang dilanda duka. Saya yang menjadi salah satu saksi hidup pun hanya bisa tawakkal kepada Allah SWT. Ini teguran nyata buat umatnya.

*Syahrul Fahmi.
*Makassar, 1 Oktober.

(AkarBerita)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
error: Content is protected !!